Selasa, 07 Desember 2010

TEK...TEK, Dapur Redaksi

Tulisan ini terbit di Majalah Bahana 2010.
Aang Ananda, pimpinan redaksi Bahana menulis naskah ini

Tek... tek... Bunyi jam dinding ruang rapat Sekretariat Bahana malam itu. Kru kelelahan dengan ‘makanan sehari-hari’—riset, wawancara, analisis dan menulis. Rabu, 13 Oktober 2010, pukul 23.45. Made, Aang, dan Gio membaringkan badan. Kami tertidur.


Tidur cepat malam itu emang disengaja. Esok, Kamis, 14 Oktober 2010, tepat pukul 10.00 pagi, ada janji wawancara dengan Suayatno, Wakil Bupati Bengkalis, di Bengkalis. Ia juga alumni FKIP Universitas Riau. Tepat waktu adalah standar kami di Bahana.

Tengah malam berlalu. Jam dinding ruang rapat menunjuk angka 02.10 subuh. Amoy bangunkan kami. “Udah jam dua, ayo berangkat,” kata Amoy. Cuci muka. Ambil tas pakaian, termos nasi, galon air, serta lauk pauk yang kami masak tadi sore. “Irit pengeluaran,” alasan Amoy.
Semua siap. Aang ambil kemudi Avanza silver yang kami sewa selama dua hari. Kami tinggalkan sekretariat Bahana tepat pukul 02.30. Kantuk kami lawan.

Beragam genre musik sengaja kami stel temani perjalanan. Mulai slow rock, disco, sampai dangdut. “Gile-gile kerja kite ni,” kata Made. Jika berpikir lazim, emang gila. Tapi ini bagian dari perjuangan. Tanggung jawab tetap sebuah hal yang harus ditunaikan.

Sembari bermusik, diskusi ngalor-ngidul pun hadir. Hilangkan ngantuk, itu pasti. Mulai soal Bahana, kampus, politik, ekonomi, budaya, bahkan gosip seputar selebritis pun dibahas.

Tak terasa, 45 menit berlalu. Kami tiba di Kabupaten Pelalawan. Mobil terus melaju ke arah Siak. “Ah… jelek kali jalannya.” Semua mengeluh. Kecepatan mobil terpaksa dikurangi. “Masa memperbaiki jalan saja pemerintah gak bisa. Padahal Riau daerah kaya,” kata Made. “Ya begitulah,” balas Gio.

Pukul 04.30, kesunyian kota Siak menyapa. Mobil melintasi jembatan Sultanah Agung Latifah. Sultanah Latifah, istri Sultan Siak ke-12. Kami sempat tersesat sejauh 500 meter sebelum tiba di Bunga Raya, desa pertama setelah Siak menuju Sungai Pakning.

Tiba di sebuah mesjid desa Bunga Raya. Bersihkan muka, sholat, lalu bremm… Udara segar bersemilir masuk ke dalam mobil. Pukul 07.15 kami tiba di Sungai Pakning, Bengkalis. Cari mesjid lalu mandi. Usai mandi, hasil riset tentang Suayatno didiskusikan kembali. “Jangan sampai mengulang pertanyaan yang udah ada. Itu gunanya riset,” kata Made. Bagi kru Bahana, riset sangat penting. Mengulang apa yang sudah dimuat di koran, itu dilarang. “Kita harus menemukan cerita yang belum dimuat di koran, dan mendapatkan angle baru,” lanjut Made.

Pukul 09.00 mobil masuk antrian kapal Roro. Sembari antri, perut kami isi. “Enak juga masakan kita, bisa lah buka catering,” kata Amoy.

Setengah jam, tiba di Kota Bengkalis. Pukul 09.50, mobil masuk parkiran kantor Bupati. “Bapak lagi ada acara pelepasan jemaah calon haji di Balai Cik Puan,” kata satpam yang bertugas di pintu masuk. Kami menyusul ke Balai Cik Puan. “Ayo ke kantor aja,” kata Suayatno.

Satu jam wawancara. Perjuangan hidup Suayatno jadi bahan renungan di benak kami. Ia seorang anak petani di Pematang Siantar dan jadi Wakil Bupati di Bengkalis. Sepuluh tahun jadi kepala sekolah dan akhirnya terjun ke dunia politik. “Hidup itu memang penuh perjuangan.” Kami memaknai itu.

Sesuai tradisi. Pergi ke suatu daerah, harus bawa liputan menarik. Desa Meskom jadi tujuan. Jaraknya sekitar 20 kilometer ke arah selatan Kota Bengkalis. Desa itu kental dengan seni Zapin. Yazid, sang maestro Zapin, lahir di sana.

Tapi, Septemeber 2010 lalu, desa itu ditinggalkan oleh sang maestro untuk selamanya. Satu pertanyaan menggelayuti otak kami. Seberapa kehilangan warga Meskom sejak kepergian Yazid? “Sangat kehillangan lah kami. Die tu kan guru kami, tempat kami mengadu soal Zapin. Kini nak kemane lagi,” kata Zainuddin, saudara Yazid, juga pengajar Zapin Meskom. Selain Zainuddin, beberapa warga Meskom juga diwawancarai. Kami menemukan semangat warga Meskom kembangkan seni tari Zapin.

Gelap mulai merayap di kota Bengkalis. Lelah, pasti. Kami singgah di warung kaki lima di pinggir jalan kota Bengkalis. Bandrek dan martabak cukup mengembalikan kondisi tubuh.

Kembali ke pelabuhan. Kapal berangkat pukul 19.45. Pukul 20.30, kembali tiba di Sungai Pakning. Mobil terus melaju. Di tengah perjalanan, rasa kantuk benar-benar tak bisa ditahan. Kami tertidur. Termasuk Aang. Setengah jam, Made tersentak.

“Eh dimana ini?” tanya Made.
Semua bangun. Suasana gelap dan hening. Kira-kanan semak ilalang.
“Gak tau, aku dah ngantuk kali tadi, makanya aku berhentikan aja mobil,” kata Aang.
“Sie sie kerje kau Ang, sempat ada perampok, digorok lah leher kite ni,” kata Made.

Mobil jalan dengan musik yang hampir lima kali diulang. Pukul 22.00, tiba di Siak. Kami istirahat di Mesjid Raya. Mesjid jadi tempat favorit kru Bahana jika sedang liputan ke luar daerah.
Kembali ke jalan. Kedai persinggahan di Pelalawan, kami istirahat kembali. Baru pukul 05.00 subuh kami lanjutkan perjalanan. Pukul 07.00 kami tiba di Pekanbaru. Pagi itu, ruang rapat sekretariat Bahana jadi tempat ternyaman istirahat. Kami tidur hingga adzan shalat Jumat bergema. Siangnya, ‘makanan rutin’ kembali dilahap; riset, wawancara, analisis dan menulis.

Beragam cerita, jika menilik tugas keredaksian kru Bahana. Edisi kali ini, kru Bahana berjuang merekonstruksi cerita di balik pemilihan Dekan Faperika, yang menyebabkan Bustari, Dekan terpilih saat, hingga kini belum dilantik. Rekonstruksi bagaimana lobi-lobi jabatan terjadi. Ini butuh kerja keras, “Kroscek sana-kroscek sini, capek juga,” kata Amoy. Benar, verifikasi berguna untuk dapatkan fakta yang ‘suci’.

Kendala muncul. Ada yang tak mau ngomong, sulitnya dapatkan dokumen, sampai ada kru yang dicemeeh. “Ngapain lah kalian ngurus hal beginian, banyak lagi hal lain.” Tapi kami sadar, ini harus diberitakan. Civitas akademika harus tahu, politik seperti ini tak etis hidup di kampus.
Bahan tulisan siap. Editan tuntas. Lalu? Ya... layout. Urusan ini, Ari jadi ‘tumbal’. Duduk berlama-lama di kursi, membelalak ke monitor. “Ada kunci aman untuk duduk lama,” kata Ari. “Bantal harus diletakkan di atas kursi dan banyak minum air putih. Agar tak ambeyen, he…”

Juli 2010. Bahana terbitkan Laporan Utama (Laput); Berebut Kekuasaan Himagrotek. Konflik politik ini terjadi di Faperta. Aang, yang juga mahasiswa Pertanian terlibat di kasus itu. Tentu hasil terbitan akan terpengaruh, mengingat Aang juga kru Bahana? Bahana punya mekanisme untuk kasus beginian. Aang, khusus di rubrik Laput, dinon-aktifkan dari tugas keredaksian. Ini terkait independensi.

Independensi dari etnis juga jadi kekayaan Bahana. Pluralitas bikin Bahana berwarna. Made berasal dari suku Bugis, Sulawesi. Amoy keturunan etnis Tionghoa. Ari asal Tembilahan, keturunan suku Banjar. Erliana campuran Batak dan Jawa. Gio dari ranah Minang. Fadli orang Melayu asal Kampar, dan Aang Melayu asal Kuansing. “Perbedaan itu indah lho,” kata Fadli.

Meski suku beragam, komitmen Bahana terhadap budaya melayu terus hidup. Ada rubrik Khasanah dan Kilas Balik di tiap terbitan. Ada juga Sajian Budaya, khusus edisi majalah. Kekayaan budaya dan sejarah kemelayuan setia kami buru. Satu yang pasti, jangan sampai Melayu hilang di bumi.

Melahirkan terbitan, jadi indikator eksistensi. Sepuluh tabloid dan satu majalah bukti eksistensi Bahana di tahun 2010. Bicara eksistensi, tak cukup terbitan. Hari ke hari, kreatifitas untuk melahirkan sebuah karya terus dipacu. Ini pembuktian; Bahana tak melulu urusan cetak.

Akhir Mei 2010, Bahana berhasil taja Diklat Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Lanjut (DJMTL) se-Sumatera. Beberapa aktivis pers mahasiswa, dari Aceh hingga Lampung kami kumpulkan. Budi Setiyono dan Basilius Triharyanto, wartawan Pantau Jakarta, jadi pemateri.

Sebelumnya, Maret 2010, Bahana juga laksanakan workshop menulis. Kegiatan ini kerjasama Eka Tjipta Foundation (ETF) dan Bahana. Kegiatan diampu Andreas Harsono dan Chik Rini. Mereka juga wartawan Pantau. Ada yang kami senangi dari metode Pantau. Mereka kenalkan genre baru; menulis narasi. Gaya penulisan yang panjang, dalam dan terasa. Pantau patuh pada kaidah jurnalisme sesungguhnya, yang tertuang dalam buku Sembilan Elemen Jurnalisme, karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel.

Ini pemicu semangat, bahwa Bahana harus melahirkan karya jurnalistik bermutu sesuai kaidah jurnalisme sesungguhnya. “Kami ingin semua pers mahasiswa mengikuti hal serupa.”

Eksistensi kembali ditunjukkan. Lahirnya buku Secuil Kisah 26 Alumni Bahana jadi bukti. Kurun enam bulan pengerjaan, kami sadar sudah selayaknya ini diterbitkan. Mereka sudah berkiprah di bidangnya. Dipetiknya nilai tauladan dari apa yang kami tulis, tujuan diterbitkannya buku ini.

Eksisnya Bahana hingga 27 tahun, tak lepas dari tempaan-tempaan ‘keras’ berproses di Bahana. Nilai-nilai integritas; kejujuran, loyalitas dan militansi selalu dikedepankan. Kru Bahana harus bisa bagi waktu, antara tugas kuliah dan Bahana. Harus bisa selalu berpikir kreatif dan kritis. Nilai-nilai itu kami asah selama di Bahana; bangun tidur hingga tidur lagi.

Pentingnya pengembangan sumber daya kru, selalu jadi perhatian. Erli dikirim ikut pelatihan jurnalistik lanjutan di Unit Kegiatan Pers Mahasiswa (UKPM) Teknokra, Universitas Lampung. “Tanpa Bahana mungkin aku tak bisa seperti ini,” kata Erli. Kesadaran mendapatkan ilmu, harus ditransformasikan pada tiap kru. Curahan kreatifitas selalu dituntut. Itulah pengabdian.

Suatu malam bulan Oktober 2010. Tek… Lampu padam. Seluruh kru kumpul di meja depan sekretariat Bahana. Bunyi gitar petikan Fadli iringi pembicaraan ringan kami. Senda gurau akrab malam itu. Sampai pada bahasan cita-cita. Ada yang ingin jadi wartawan, pengusaha, penulis, dosen, advokat, dan sukses dunia akhirat. Akankah dari Bahana cita-cita mulia itu akan terwujud? Tek… lampu kembali nyala. Rutinitas menulis kembali dilakoni. Selengkapnya...

SECUIL 26, Sebuah Pengantar

Ini kata pengantar Buku Secuil Kisah 26 Alumni Bahana.

Satu malam. Usai sholat maghrib. Kru berkumpul. Di atas meja panjang itu, tumpukan koran, buku dan aneka gorengan dalam bungkusan koran berkresek hitam tersaji. Tangan-tangan ‘jahil’ segera menyambar isi dalam kresek. Meski hanya menyantap gorengan sederhana itu, Senin 16 November 2009 pukul 19.00, generasi 2009 Bahana Mahasiswa memulai sebuah ide kreatif, katakanlah melanjutkan ide-ide generasi sebelumnya.


Generasi tahun 2002 pernah menerbitkan delapan buku; Menuju Riau 2020, Benturan Ideologi karya Cecep Suryadi, Dari Gerakan Pembelaan Menuju Pemberdayaan karya Ihsan Yus, Dari Unri Menebar Karya karya Bahana, Menjadi Wirausaha Handal dan Pemasaran Interaktif karya Edyanus Herman Halim, Riak Politik Legislatif Riau karya Azam Awang, dan Komunitas Adat Terpencil. Empat tahun kemudian, Desember 2006 Bahana hanya menerbitkan satu buku bertajuk Sayap Emas dari Unri.

Semua buku tersebut diterbitkan Bahana Press, salah satu lembaga semi otonom milik Bahana. Bahana Press terbit pada Januari 2002.
Karena tradisi itulah Bahana press kembali berazam menerbitkan buku bertajuk Secuil Kisah 26 Alumni Bahana pilihan generasi 2009.


Seperti biasa, diskusi berlangsung lama sebelum ketuk palu tanda sepakat. Dan ini sudah tradisi, apapun pembahasan—kasus-kasus, kegiatan dan hal-hal yang dianggap perlu—wajib didiskusikan. Musyawarah dan mufakat adalah kata akhir.
Pembahasan bermula dari sini, dan semua kru angguk-angguk kepala bersepakat; sebanyak 26 alumni Bahana akan dipilih sesuai dengan hari jadi Bahana yang ke-26 tahun 2009. Bahana berdiri pada 17 Juli 1983.

Sambil menyantap gorengan—tahu, bakwan, pisang—mulai muncul soalan. Dari 173 alumni Bahana (1983-2009) akan dikerucutkan menjadi 26 alumni. Dan penentuan ini tak mudah. Lalu, bagaimana dengan alumni yang pernah Bahana terbitkan dalam buku;
Dari Unri Menerbar Karya, (kumpulan 17 Alumni Unri yang berprestasi dibidangnya sempena hari jadi Bahana Ke-17 tahun; Al-Azhar (budayawan Riau), Fakhrunnas MA Jabbar (budayawan Riau), Nyat Kadir (eks walikota Batam), Taufik ikram Jamil (Sastrawan Riau), dan Rusli Zainal (Gubernur Riau).

Sayap Emas Dari Unri, kumpulan 23 Alumni Unri yang sukses dibidangnya sempena hari jadi Bahana ke-23; Bahtiar (General Manager Batam Tv), Deni Kurnia (Ketua PWI Riau), Helmi Burman (Politikus dan mantan Ketua PWI Riau), Yusmar Yusuf (Dosen Unri dan Budayawan Riau), WE Tinambunan (Dosen Unri) dan Azmi R Fatwa (Anggota Legislatif Bengkalis). Mereka semua adalah tokoh di Riau.

Timbul pertanyaan dari salah satu kru malam itu. Apakah Ke-11 Alumni itu disajikan kembali dalam buku Secuil Kisah 26 Alumni Bahana?

Ya. Sebab mereka alumni yang punya pengaruh dan nama besar dan inikan dari cerita khusus alumni Bahana, jadi semua alumni Bahana harus masuk meski mereka sudah pernah ditampilkan dalam buku. Itu kata yang setuju.

Tidak. Kata yang tidak setuju. Sepakat bahwa semua alumi harus masuk, tapi yang sebelas alumni tersebut tak prioritas. Kita harus memberi kesempatan pada alumni yang belum kita tampilkan. Selain itu, jika alumni sebelas tersebut kita masukkan kembali akan terjadi pengulangan catatan sejarah perjalanan hidup dan pembaca akan mencap bahwa seolah-olah hanya sebelas orang tersebut alumni Bahana yang hebat. Padahal tak hanya itu alumni Bahana.

Diskusi panas hingga melewati angka 21.00. Tanpa terasa gorengan ‘penyemangat’ di atas meja lesap sudah. Sebagian kru ada yang mengambil air minum, buang air kecil dan berolahraga ringan.
Pukul 21.59, setelah habis argumentasi pertahankan pendapat, kata akhir ala Bahana harus segera diambil. Kesepakatan jadi jalan penengah. Dan, pendapat tidak setuju jadi pilihan.

Lalu, rapat membuat kriteria. Alhamdulillah, saat penentuan kriteria tak banyak usulan dan pembahasan. Kriteria, pertama pernah mengabdi di Bahana minimal masuk dalam struktur redaksi alias kop Bahana, kedua sukses dan berprestasi di bidang yang digelutinya versi generasi 2009. Sekali lagi versi generasi 2009. Memang ini amat subjektif! Dan kami yakin, akan ada alumni Bahana yang protes. Kenapa si ini. Kenapa si anu. Apa mau dikata, generasi 2009 sudah menentukan pilihan.

Ada pepatah dalam ilmu hukum. Bahwa hukum mengikuti perkembangan masyarakat. Artinya hukum harus berubah. Hukum tidak saja tertera dalam teks-teks, di luar itu juga ada hukum yang hidup dan ’bernafas’ di tengah-tengah masyarakat. Bahkan lebih hukum dibanding hukum dalam teks-teks.

Begitu juga di Bahana. Ia senantiasa berubah mengikuti perkembangan masyarakat, khususnya masyarakat civitas akademika Universitas Riau. Atau katakanlah, masyarakat dunia.

Nah, sejak tahun 1983 hingga 2009 tampilan Bahana berubah. Sepanjang tahun 2009, tampilan Bahana berubah. Dari 24 menjadi 16 halaman, terbit dwi mingguan dari sebelumnya sebulan. Sebenarnya bukanlah prestasi tapi tuntutan dan masukan civitas akademika Unri, bahwa berita Bahana—yang terbit sebulan sekali—’basi’, tidak up to date, dan covernya kaku. Lalu, kami lakukan survei kecil-kecilan. Dwi mingguan adalah jawabannya.

Sejak saat itu, agar tak kaku, cover Bahana selalu sajikan gambar kartun. Di jejaring social facebook Bahana, alumni selalu beri komentar cover Bahana. Kami suka itu, ternyata alumni perhatian sama adik-adik, he he he...

Tiap dua minggu juga biasanya hari Jumat malam, Bahana taja diskusi seputar Unri, Riau dan Indonesia—biasanya kasus sosial. Tiap tahun Bahana menerbitkan Majalah—majalah terbit sejak tahun 2007.

Kami berbangga. Sebab, khusus di Riau, Pers Mahasiswa—yang pertama kali—terbit dwi mingguan dan Majalah tahunan—baru Bahana. Aklamasi (Universitas Riau), Gagasan (Universitas Islam Negeri Suska Riau), Visi (Universitas Lancang Kuning) dan Tekad (ilmu komunikasi Fisip Unri), terbit bulanan bahkan ada yang sampai tiga bulanan.

Oh ya. Tepat hari jadi perak Bahana ke-25 tahun, generasi 2008 berhasil menyatukan alumni Bahana yang ’terserak’. Di Hotel Ibis Pekanbaru, Ramadhan 1429 atau 6 Desember 2008, pukul 20.56. Sekitar 60 alumni berkumpul. Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Bahana didirikan. Kakanda Fakhrunnas MA Jabbar, pemimpin redaksi pertama sekaligus pendiri Bahana, didaulat sebagai Ketua Umum periode 2008-2013. Sekali lagi, ini satu-satunya di Riau yang dibuat pers mahasiswa.

Sedikit cerita soal buku. Sejak 2008 dan 2009, Bahana sudah proyeksikan membuat buku; Kenalkan Saya Wartawan Bahana; Kumpulan Kilas Balik, Kumpulan Cerpen, Sayap Emas dari Unri dua, Kumpulan Opini dan Kolom, Fikiran 26 Alumni Bahana, dan Secuil Kisah 26 Alumni Bahana.

Semua buku di atas yang kami proyeksikan akan terbit berseri atau bersambung sesuai hari jadi Bahana. Jika ada Secuil Kisah 26 Alumni Bahana, akan ada Secuil Kisah 27 Alumni Bahana pada 2010. Dan seterusnya.

Selain itu, Bahana berazam siapapun Pimpinan Umumnya, tiap tahun wajib menerbitkan minimal satu buku. Jika tidak, akan dianggap ’durhaka’, he he he.. Ingat, kreasi di Bahana tidak saja sekadar menerbitkan tabloid.

Ada beberapa catatan. Sejak tahun 2007, Rektor Universitas Riau, Prof Ashaluddin Jalil, gencar sosialisasi perubahan akronim nama Unri jadi UR (baca; u er). Alasannya sederhana, suatu ketika Ibunda Prof Ashaluddin Jalil, menulis surat padanya. Dalam surat itu, sang bunda menyebut Undri. Lalu, nama-nama yang mirip Unri seperti Umri dan Unsri. Beberapa media lokal di Riau juga menyebut UR.

Singkat cerita, Maret 2010, senat universitas menyetujui perubahan nama Unri jadi UR. Kini, tinggal menunggu persetujuan dari Menteri Pendidilan Nasional. Karena mematuhi keputusan senat universitas, sejak edisi April 2010, Bahana memakai UR.

Nah, kenapa dalam buku ini, masih ada kata-kata Unri? Sebab saat wawancara ke-26 Alumni Bahana selalu menyebut nama Unri. Selebihnya, mereka punya kenangan dengan Unri, bukan UR.

Generasi 2009 sepakat menyebut Bahana bukan BM. Sebab, saat rektor pertama Unri, almarhum Prof Muchtar Luthfi, pada 1982 memberi nama dengan sebutan Bahana bukan BM.

Kami ucapkan terima kasih kepada;
Rektor Unri, Bapak Prof Ashaluddin Jalil, bersedia memberi kata sambutan. Orang tua kami, Bapak Moeslim Rusli, wartawan senior Riau. Yang kami sayangi, kami hormati, abang kami Fakhrunnas MA Jabbar, detik-detik akhir deadline cetak bersedia luahkan waktu memberi kata pengantar. Dan terima kasih kritikannya, Bang.

Juga terima kasih kepada abang-kakak dalam Secuil Kisah 26 Alumni Bahana. Baik yang membantu secara materi, maupun hanya sebatas doa.
Bapak Hanafi Kadir dan Kak Rinta (Humas) PT Chevron Pacific Indonesia, yang memberi bantuan materi, terima kasih.

Kembali ke Senin 16 November 2009. Usai rapat malam itu, kami kembali ke ruang ketik. Seperti biasa, namanya juga wartawan, mengejar deadline. Kesibukan kami pun bertambah malam itu.
Kok cuma Secuil Kisah 26 Alumni Bahana yang terbit? Sisanya? Sedikit mengulang cerita. Sejak terbit dwi mingguan, diskusi dwi mingguan, kesibukan Bahana luar biasa padat. Habis terbit edisi dwi mingguan, kru tetap istirahat cuma dua hari. Selain itu kru juga sibuk kuliah. Lalu soal sumber daya manusia. Kru generasi Bahana Januari-Oktober 2009 (16 kru), November 2009-Mei 2010 kru tinggal delapan orang. Lalu, aktifitas intelektual lainnya juga menyita waktu kru.

Kami yang masih ’budak kecik’ ini, jika membaca sajian kami yang ini, dengan tangan terbuka, menanti kritikan pembaca. Sebab, ini pekerjaan manusia. Tiada yang sempurna. Kami sadar ada setitik salah dalam penulisan ini.

Khusus untuk Alumni Bahana yang belum masuk dalam secuil kisah, jangan kecil hati. Jangan merajuk ye...’Pasti’, pada generasi mendatang akan ada secuil kisah selanjutnya. Tujuan utama buku ini, mendata dan mengumpulkan alumni dalam bentuk buku.
Terakhir dari saya, sebagai wartawan Bahana sejak 2004, bersyukur, bahwa generasi 2009 tidak akan dianggap ’durhaka’ oleh generasi selanjutnya. He he he he...

Lanjutkan, Mengembangkan Tradisi Akademis yang Kritis!


Selengkapnya...